Jumat, 29 Maret 2019

Anniversary Pernikahan Kita

Ketika itu di bulan Maret tahun 2012 di buku agendaku kutulis kuajukan proposal padaNYA kubilang aku merindukan kehadiran seseorang, ingin bersama seseorang. Selalu kusebut dia di catatanku, minta didekatkan dengan siapapun yang ditaqdirkan menjadi jodohku. Kubilang juga puasa tahun depan (2013) aku ingin menemani seseorang menjalani ibadah puasa. Dan baiknya Allah sama aku yang masih sering bandel, tapi Allah acc banyak hal yg aku ajukan. Tepat setahun kemudian di bulan Maret 2013 tanggal 30 Allah acc apa yang dulu pernah aku ajukan.

Yaitu resmi menikah denganmu Mas, menjadi istrimu..

Terimakasih mas sudah menjadi jawaban apa yang pernah aku tulis dulu. Terimakasih sudah menjadi suamiku, dan memuliakan aku dengan pernikahan kita. Terimakasih sudah bertahan dan berjuang untukku..
6 tahun menjadi istrimu, tapi hanya 5,5 tahun aku diijinkan memilikimu di dunia.
Dan aku bahagia karna pernah memilikimu, menjadi istrimu dan menjadi bagian dari kehidupanmu
Semoga Allah meridhoi 5,5 tahun kebersamaan yang pernah kita jalani..

#30Maret
#Anniversary
#6Tahun
 

Selasa, 26 Februari 2019

Rindu Suami

Hei kamu,
Tadi rasanya kaya' lihat kamu lagi duduk di teras depan.
Jam setengah 5 subuh jemurin baju di luar, gak bisa untuk gak melirik tempat dudukmu yang biasanya kalau subuh subuh.
Bahkan asbakmu masih ada disitu, di tempat yang sama biasa kamu naruh.
Gak ada yang berubah disitu, kecuali gak ada lagi kamu yang biasanya jam setengah 4 pagi udah jagongan minum kopi.


Kamu tau gak kalau aku lagi rindu berat.
Rindu kamu...
Iyaaa kamuuu suamiku....

Selasa, 19 Februari 2019

Akhir Dari Masa Iddah

Hampir berakhir masaku sebagai istrimu.
Dan kemarin kuberikan sesuatu sebagai "Hadiah" untukmu. Melengkapi ibadahmu dan syariatmu.

Aku tahu mungkin belum cukup hal itu untuk menebus segala kesalahan kesalahanku padamu. Tapi setidaknya semoga bisa menjadi jalan bagiku untuk meminta maaf padamu. Semoga dengan itu kelak Njenengan berikan maaf padaku dan Njenengan berikan ridho padaku.

Maafkan aku...Maafkan aku mas
Terimakasih sudah berjuang untukku dan Husein
Terimakasih untuk semua kesabaranmu menjadi suamiku
Terimakasih sudah memberikan kehormatan dengan menjadikanku istrimu....


#4 bulan,10 hari kepergianmu

Sabtu, 09 Februari 2019

Maafkan Aku Suamiku

Ahad, 5 Jumadil Akhir 1440 H
Di tanggal Hijriyah ini tepat 4 bulan kepergianmu, jatuh di hari ahad sama seperti saat berpulangmu dulu. ahh bukan dulu, lebih tepatnya kemarin. Karna rasa nya baru kemarin aku melihatmu terpejam tak bergerak di depanku. Sekarang ku sesali kenapa saat pertama kali kita bertemu setelah 20 hari LDR, ketika itu aku tak memelukmu. Bahkan menyentuh wajahmu pun tidak. Aku hanya menangis melihatmu, tanpa berani untuk menyentuhmu.

20 Hari tak bertemu, 20 hari tak melihatmu bahkan mungkin ada seminggu aku tak mendengar suaramu karna aku yang terlalu cuek dan sering mengabaikan telpon darimu.
Ketika akhirnya kita bertemu, ketika akhirnya aku dan anak kita menemuimu. Sudah tak ada lagi suara lantangmu yang menyapaku..

Di hari kamis itu, 2 hari sebelum kepergianmu. Pertengkaran kita,,apa kamu sudah memaafkanku ?
Aku bahkan belum minta maaf, aku bahkan mengabaikan telpon dan chatt WA dari mu saat itu..
Apa kamu sudah ridho denganku ?
Atau malah kamu marah padaku, setelah aku begitu menyakitimu..
Bagaimana caraku untuk bisa minta maaf padamu Mas ?

Mungkinkah meninggalmu karena aku..
Mungkinkah aku yang membuat kepergianmu ini begitu cepat ?
Iyaa bisa jadi karna aku. Karna terlalu beban pikiran dengan pertengkaran kita, karna sikapku yang demikian buruk yang menyebabkanmu terkena serangan akut itu.

Mungkinkah....mungkinkah....selalu saja berputar di kepalaku.

Hingga hari ini aku masih tidak bisa menghilangkan segala pikiran pikiran itu, menghilangkan sesak rasa bersalah dan penyesalan.
Rasanya seperti aku tidak bisa memaafkan diri sendiri..

#4 bulan tanpamu, 4 bulan jatuh bangun berdamai dengan kenyataan.
4 bulan berproses melalui keadaan ini..

Selasa, 05 Februari 2019

Kematian Pasangan Hidup

Kehilangan pasangan hidup itu menyakitkan
Kehilangan pasangan hidup itu menyedihkan
Kehilangan pasangan hidup itu melemahkan
Kehilangan pasangan hidup itu membuat terpuruk dan terjatuh..

Butuh waktu untuk bangkit dari semua itu
Butuh waktu untuk menguat dari semua itu..
Iyaaa butuh waktu, dan aku pun masih proses melalui itu semua.


Tapi ketika ada anak, anak lah yang menjadi motivasi saat harus bangkit dari segala keterpurukan itu.
Anak lah yang menjadi penyemangat untuk memulai hari hari berikutnya tanpa ada pasangan.

Hanya harus bersabar & bertahan untuk melaluinya
Insyaallah.

Rabu, 30 Januari 2019

Merindukan Suami

7 Desember 2017
TERSESAT DALAM KENANGANMU
Ketika itu di Pantai Bantul....
Tersesat di dalam semua kenangan tentangmu
Tersesat dalam setiap ingatan tentangmu
Tersesat dalam kerinduan 

Dan merindukanmu menjadi kebiasaanku saat ini....

Selasa, 29 Januari 2019

Ketika Suami Meninggal

Ketika itu 14 Oktober 2018
14 November 2018
Hari ini Sebulan berpulangmu pada Rabb kita, dan tak ada seharipun bahkan semenit pun aku bisa memalingkan diriku dari memikirkan dan merindukanmu.
penuh sesak dengan banyak rasa bersalah dan banyak penyesalan.
Tanggal 25 september aku serta husein mengantarmu sampai Sleman untuk pulang balik ke Nganjuk dan ternyata hari itu menjadi hari terakhir aku & anak kita melihatmu.


Malam itu saat isya’ kamu menelponku seperti biasanya, tapi sayangnya saat itu aku lebih memilih untuk tidak mengangkat telponmu karna HP sedang dicas & aku malas untuk mengambil HP. Kupikir ahh besok hari ahad pas libur bisa kutelpon balik & ngobrol berlama lama.
Aku tertidur dan tengah malam aku terbangun tapi saat itu pun tidak terpikirkan untuk sekedar ngechatt kamu. HP ku buat mode pesawat dan aku melekan membaca buku.
Entah jam berapa aku mulai tertidur lagi, jam 4 pagi bangun dan kondisi HP masih tetap mode pesawat. Saat itu aku masih belum tau apa yang terjadi di rumah Nganjuk, masih belum tau kalau kamu suamiku subuh itu sudah tak ada lagi di dunia ini


Subuhan dan entah apa yang kulakukan pagi itu, aku tetap belum membuka HP. Setengah 6 pagi akhirnya ku buka HP. Buka WA dan langsung terbaca pesan WA dari salah seorang teman
“Assalamualaikum mbak, apa benar mas Aqil meninggal ? “
Degg..Jantung berdetak kencang tapi saat membaca itu sama sekali tidak ada perasaan kalau itu benar. Hanya kaget kenapa ada berita seperti itu tentang suami.  Karna pikirku, enggak mungkin lah wong semalem saja masih nelpon. Pikirku mungkin itu hanya kabar hoax dari orang orang yang selama ini tidak menyukai aktifitas suamiku di Facebook.

Tapi tetap langsung kutelpon no HP suami untuk menyampaikan ke dia kok aku dapet WA seperti itu. Kemudian telponku diangkat, perasaanku menjadi sedikit lega karna saat diangkat itu yang ada di pikiranku suamiku lah yang mengangkat telponnya.

Baru aku mau bilang Mas. Suara salam disana ternyata bukan suara suamiku, suara dari saudara suami.
Aku langsung histeris bertanya “Mas aqil pundi...mas aqil pundi ”
Berkali kali kutanya sampai beliau akhirnya bilang “Mbak..niki wau bapak’e husein kepundut Allah”


Entah setelahnya beliau bilang apa, aku hanya menaruh HP dan menangis histeris berteriak seperti orang gila. Tak ku ingat entah anakku melihat ibuknya seperti itu atau tidak sampai kemudian tetangga berdatangan.
Aku lupa setelah itu apa yang kulakukan, sepertinya naluri yang menggerakkanku untuk bersiap siap ke Nganjuk dan menyiapkan anakku tanpa bisa berpikir apapun.
Yang terus berputar di kepalaku, mungkin ini mimpi..mungkin ini mimpi....


Sekarang...beberapa minggu setelah hari itu.
aku masih terjebak dengan semua penyesalanku dengan semua rasa bersalahku.

Kenapa isya’ itu aku mengabaikan telponmu.
kenapa HP kubuat mode pesawat, saat itu jam itu aku sudah bangun tapi kenapa sampai terlambat aku mengetahui kabarmu.
Kenapa aku tak ada didekatmu saat dirimu berpulang.
Apa yang salah, kenapa secepat ini kepergianmu.
Apa karna pertengkaran kita di hari kamis itu yang membuatmu meninggal.

Mungkin kalau aku tak begini, kamu masih hidup.
Mungkin kalau aku tak banyak berbuat salah kamu masih hidup.
Mungkin kalau aku lebih memperhatikan kesehatanmu, kamu masih ada di dunia ini...
Dan banyak mungkin mungkin yang selalu saja berputar di kepalaku..
Dan banyak hal yang membuatku terus menyalahkan diri sendiri, mengutuki diri sendiri & tak bisa memaafkan diriku sendiri.

Bahkan saat ini pun masih jatuh bangun aku berusaha menerima kalau kepergianmu ini diluar kuasaku.

Ketika takdir ALLAH begitu sulit kupahami.
Ketika ada ruang gelap yang dengan ilmuku sulit untuk kupahami..
Apa yang mesti ku lakukan....?


#Allahummaghfirlahu......

Suamiku

21 Oktober 2018
5 tahun, 6 bulan, 13 hari bersamamu...
Tiap kali ku tanya, kamu bahagia mas sama aku ?
Jawabanmu selalu sama..

"Aku bahagia ro sampean, aku cinta nang sampean. Pengen urip bareng tekan tuo"

Yang biasanya hanya kutanggapi dengan
"Hallah...ngrayu."


Mau kita sedang baik atau bertengkar itulah jawabanmu.
Padahal tak terhitung berapa kali aku sudah membuatmu kecewa, membuatmu sedih dan marah, menyakiti hatimu.

Kamu sangat...sangat sabar...
Teramat sabar denganku, tidak pernah berlama lama marah denganku.
Dan meskipun aku belum minta maaf, kamu selalu bilang duluan  "sampean uwis ta sepuro"


Semoga semua kesabaran itu menjadi pahala untukmu Mas 💓💓💓

Sungguh rindu dengan rayuanmu yang "garing" itu yang lebih sering membuatku tertawa atau bahkan membuatku cemberut daripada
tersipu malu.


#
Hanya
harus berdamai dengan kenyataan
#8Harimu

Kesaksianku Tentang Suami

16 Oktober 2018
Kalau ada yg harus di syukuri dari "kehilangan" ini. Setidaknya dia pergi disaat akan melaksanakan apa yang menjadi kebiasaannya selama bertahun tahun.

Iyaaa..bertahun tahun selama menjadi istrinya aku menyaksikan sendiri dia tidak pernah meninggalkan shalat malamnya. Dan menjadi rutinitasnya untuk bangun jam 3 atau setengah 3 malam. Kemudian dia akan mandi, sedingin apapun udara dia tetap akan mandi.
Membuat kopi, kemudian shalat tahajud. Setelah shalat dia akan duduk di teras minum kopi sambil menunggu waktu subuh. Begitu terus kebiasaannya, baik saat di Magelang atau di Nganjuk.

Dan kalau dia sedang ada acara hingga jam 1 atau jam 2 malam. Biasanya dia akan menunda tidurnya, melekan menunggu jam 3 untuk shalat malam kemudian shalat subuh baru setelah itu tidur sampai jam 7 pagi.

Kebiasaan bangun malam serta shalat tahajud yang istrimu ini belum bisa mengikuti sebaik dirimu...


Dan hari itu dini hari di Nganjuk...
Seperti biasa dia lakukan rutinitasnya bangun sekitar jam setengah 3 malam. Sudah mandi, sudah berwudhu untuk shalat. Sesaat setelah itu dengan tiba tiba dia jatuh tak sadarkan diri dan Allah langsung mengambil dirinya...
Begitu mendadak kejadian itu yang bahkan tanpa didahului sakit atau apapun.

Mungkin inilah yg membuatku sedikit teramat lega. Inshaallah Husnul Khotimah njenengan Mas. Pergimu disaat akan melaksanakan ibadah bahkan tubuhmu sudah suci dengan air wudhu.
Bukan seperti yang orang orang itu katakan, mereka yang membencimu yang mengatakan hal buruk tentang kepergianmu.

Terlepas dari semua kekurangan kekuranganmu yang mungkin kadang belum bisa aku terima. Aku bersaksi Mas njenengan SUAMI yang BAIK, begitu sabar MasyaAllah.
Sangat sangat sabar dengan segala polah istrimu ini.
Selalu memaafkan apapun kesalahan yang istrimu ini lakukan. Yang tidak pernah menuntut banyak hal dari istrimu.
Yang sering bilang kalau njenengan bahagia bersamaku, ingin bersamaku menua denganku meskipun teramat sering aku menyakiti hatimu.

Maaf....maaf..maaf Mas....maafkan istrimu
Semoga saat meninggalmu njenengan sudah ridho denganku, sudah memaafkan segala kesalahanku.

Sehari Setelah Suami Meninggal

15 Oktober 2018
Sehari setelah Berpulangmu......
Sudah bertahun tahun sering menghabiskan malam sendirian disaat kita LDR. Terbiasa tanpamu, terbiasa apa apa sendiri. Tapi entah kenapa malam ini sendiriku terasa menyesakkan, sendiriku terasa seperti membunuhku..

Mas...sedang apa njenengan "disana"
Tak ingin menangis lagi, tapi air mata ini terus mengalir tak mau berhenti.
Menyesal belum bisa jadi istri yg baik buat njenengan, dan sekarang kesempatan untuk berbakti ke njenengan sudah tidak ada lagi..

Mas...semoga njenengan ridho ke aku..
Masih belum sempat aku meminta maaf padamu...