Selasa, 29 Januari 2019

Ketika Suami Meninggal

Ketika itu 14 Oktober 2018
14 November 2018
Hari ini Sebulan berpulangmu pada Rabb kita, dan tak ada seharipun bahkan semenit pun aku bisa memalingkan diriku dari memikirkan dan merindukanmu.
penuh sesak dengan banyak rasa bersalah dan banyak penyesalan.
Tanggal 25 september aku serta husein mengantarmu sampai Sleman untuk pulang balik ke Nganjuk dan ternyata hari itu menjadi hari terakhir aku & anak kita melihatmu.


Malam itu saat isya’ kamu menelponku seperti biasanya, tapi sayangnya saat itu aku lebih memilih untuk tidak mengangkat telponmu karna HP sedang dicas & aku malas untuk mengambil HP. Kupikir ahh besok hari ahad pas libur bisa kutelpon balik & ngobrol berlama lama.
Aku tertidur dan tengah malam aku terbangun tapi saat itu pun tidak terpikirkan untuk sekedar ngechatt kamu. HP ku buat mode pesawat dan aku melekan membaca buku.
Entah jam berapa aku mulai tertidur lagi, jam 4 pagi bangun dan kondisi HP masih tetap mode pesawat. Saat itu aku masih belum tau apa yang terjadi di rumah Nganjuk, masih belum tau kalau kamu suamiku subuh itu sudah tak ada lagi di dunia ini


Subuhan dan entah apa yang kulakukan pagi itu, aku tetap belum membuka HP. Setengah 6 pagi akhirnya ku buka HP. Buka WA dan langsung terbaca pesan WA dari salah seorang teman
“Assalamualaikum mbak, apa benar mas Aqil meninggal ? “
Degg..Jantung berdetak kencang tapi saat membaca itu sama sekali tidak ada perasaan kalau itu benar. Hanya kaget kenapa ada berita seperti itu tentang suami.  Karna pikirku, enggak mungkin lah wong semalem saja masih nelpon. Pikirku mungkin itu hanya kabar hoax dari orang orang yang selama ini tidak menyukai aktifitas suamiku di Facebook.

Tapi tetap langsung kutelpon no HP suami untuk menyampaikan ke dia kok aku dapet WA seperti itu. Kemudian telponku diangkat, perasaanku menjadi sedikit lega karna saat diangkat itu yang ada di pikiranku suamiku lah yang mengangkat telponnya.

Baru aku mau bilang Mas. Suara salam disana ternyata bukan suara suamiku, suara dari saudara suami.
Aku langsung histeris bertanya “Mas aqil pundi...mas aqil pundi ”
Berkali kali kutanya sampai beliau akhirnya bilang “Mbak..niki wau bapak’e husein kepundut Allah”


Entah setelahnya beliau bilang apa, aku hanya menaruh HP dan menangis histeris berteriak seperti orang gila. Tak ku ingat entah anakku melihat ibuknya seperti itu atau tidak sampai kemudian tetangga berdatangan.
Aku lupa setelah itu apa yang kulakukan, sepertinya naluri yang menggerakkanku untuk bersiap siap ke Nganjuk dan menyiapkan anakku tanpa bisa berpikir apapun.
Yang terus berputar di kepalaku, mungkin ini mimpi..mungkin ini mimpi....


Sekarang...beberapa minggu setelah hari itu.
aku masih terjebak dengan semua penyesalanku dengan semua rasa bersalahku.

Kenapa isya’ itu aku mengabaikan telponmu.
kenapa HP kubuat mode pesawat, saat itu jam itu aku sudah bangun tapi kenapa sampai terlambat aku mengetahui kabarmu.
Kenapa aku tak ada didekatmu saat dirimu berpulang.
Apa yang salah, kenapa secepat ini kepergianmu.
Apa karna pertengkaran kita di hari kamis itu yang membuatmu meninggal.

Mungkin kalau aku tak begini, kamu masih hidup.
Mungkin kalau aku tak banyak berbuat salah kamu masih hidup.
Mungkin kalau aku lebih memperhatikan kesehatanmu, kamu masih ada di dunia ini...
Dan banyak mungkin mungkin yang selalu saja berputar di kepalaku..
Dan banyak hal yang membuatku terus menyalahkan diri sendiri, mengutuki diri sendiri & tak bisa memaafkan diriku sendiri.

Bahkan saat ini pun masih jatuh bangun aku berusaha menerima kalau kepergianmu ini diluar kuasaku.

Ketika takdir ALLAH begitu sulit kupahami.
Ketika ada ruang gelap yang dengan ilmuku sulit untuk kupahami..
Apa yang mesti ku lakukan....?


#Allahummaghfirlahu......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar