Rabu, 30 Januari 2019

Merindukan Suami

7 Desember 2017
TERSESAT DALAM KENANGANMU
Ketika itu di Pantai Bantul....
Tersesat di dalam semua kenangan tentangmu
Tersesat dalam setiap ingatan tentangmu
Tersesat dalam kerinduan 

Dan merindukanmu menjadi kebiasaanku saat ini....

Selasa, 29 Januari 2019

Ketika Suami Meninggal

Ketika itu 14 Oktober 2018
14 November 2018
Hari ini Sebulan berpulangmu pada Rabb kita, dan tak ada seharipun bahkan semenit pun aku bisa memalingkan diriku dari memikirkan dan merindukanmu.
penuh sesak dengan banyak rasa bersalah dan banyak penyesalan.
Tanggal 25 september aku serta husein mengantarmu sampai Sleman untuk pulang balik ke Nganjuk dan ternyata hari itu menjadi hari terakhir aku & anak kita melihatmu.


Malam itu saat isya’ kamu menelponku seperti biasanya, tapi sayangnya saat itu aku lebih memilih untuk tidak mengangkat telponmu karna HP sedang dicas & aku malas untuk mengambil HP. Kupikir ahh besok hari ahad pas libur bisa kutelpon balik & ngobrol berlama lama.
Aku tertidur dan tengah malam aku terbangun tapi saat itu pun tidak terpikirkan untuk sekedar ngechatt kamu. HP ku buat mode pesawat dan aku melekan membaca buku.
Entah jam berapa aku mulai tertidur lagi, jam 4 pagi bangun dan kondisi HP masih tetap mode pesawat. Saat itu aku masih belum tau apa yang terjadi di rumah Nganjuk, masih belum tau kalau kamu suamiku subuh itu sudah tak ada lagi di dunia ini


Subuhan dan entah apa yang kulakukan pagi itu, aku tetap belum membuka HP. Setengah 6 pagi akhirnya ku buka HP. Buka WA dan langsung terbaca pesan WA dari salah seorang teman
“Assalamualaikum mbak, apa benar mas Aqil meninggal ? “
Degg..Jantung berdetak kencang tapi saat membaca itu sama sekali tidak ada perasaan kalau itu benar. Hanya kaget kenapa ada berita seperti itu tentang suami.  Karna pikirku, enggak mungkin lah wong semalem saja masih nelpon. Pikirku mungkin itu hanya kabar hoax dari orang orang yang selama ini tidak menyukai aktifitas suamiku di Facebook.

Tapi tetap langsung kutelpon no HP suami untuk menyampaikan ke dia kok aku dapet WA seperti itu. Kemudian telponku diangkat, perasaanku menjadi sedikit lega karna saat diangkat itu yang ada di pikiranku suamiku lah yang mengangkat telponnya.

Baru aku mau bilang Mas. Suara salam disana ternyata bukan suara suamiku, suara dari saudara suami.
Aku langsung histeris bertanya “Mas aqil pundi...mas aqil pundi ”
Berkali kali kutanya sampai beliau akhirnya bilang “Mbak..niki wau bapak’e husein kepundut Allah”


Entah setelahnya beliau bilang apa, aku hanya menaruh HP dan menangis histeris berteriak seperti orang gila. Tak ku ingat entah anakku melihat ibuknya seperti itu atau tidak sampai kemudian tetangga berdatangan.
Aku lupa setelah itu apa yang kulakukan, sepertinya naluri yang menggerakkanku untuk bersiap siap ke Nganjuk dan menyiapkan anakku tanpa bisa berpikir apapun.
Yang terus berputar di kepalaku, mungkin ini mimpi..mungkin ini mimpi....


Sekarang...beberapa minggu setelah hari itu.
aku masih terjebak dengan semua penyesalanku dengan semua rasa bersalahku.

Kenapa isya’ itu aku mengabaikan telponmu.
kenapa HP kubuat mode pesawat, saat itu jam itu aku sudah bangun tapi kenapa sampai terlambat aku mengetahui kabarmu.
Kenapa aku tak ada didekatmu saat dirimu berpulang.
Apa yang salah, kenapa secepat ini kepergianmu.
Apa karna pertengkaran kita di hari kamis itu yang membuatmu meninggal.

Mungkin kalau aku tak begini, kamu masih hidup.
Mungkin kalau aku tak banyak berbuat salah kamu masih hidup.
Mungkin kalau aku lebih memperhatikan kesehatanmu, kamu masih ada di dunia ini...
Dan banyak mungkin mungkin yang selalu saja berputar di kepalaku..
Dan banyak hal yang membuatku terus menyalahkan diri sendiri, mengutuki diri sendiri & tak bisa memaafkan diriku sendiri.

Bahkan saat ini pun masih jatuh bangun aku berusaha menerima kalau kepergianmu ini diluar kuasaku.

Ketika takdir ALLAH begitu sulit kupahami.
Ketika ada ruang gelap yang dengan ilmuku sulit untuk kupahami..
Apa yang mesti ku lakukan....?


#Allahummaghfirlahu......

Suamiku

21 Oktober 2018
5 tahun, 6 bulan, 13 hari bersamamu...
Tiap kali ku tanya, kamu bahagia mas sama aku ?
Jawabanmu selalu sama..

"Aku bahagia ro sampean, aku cinta nang sampean. Pengen urip bareng tekan tuo"

Yang biasanya hanya kutanggapi dengan
"Hallah...ngrayu."


Mau kita sedang baik atau bertengkar itulah jawabanmu.
Padahal tak terhitung berapa kali aku sudah membuatmu kecewa, membuatmu sedih dan marah, menyakiti hatimu.

Kamu sangat...sangat sabar...
Teramat sabar denganku, tidak pernah berlama lama marah denganku.
Dan meskipun aku belum minta maaf, kamu selalu bilang duluan  "sampean uwis ta sepuro"


Semoga semua kesabaran itu menjadi pahala untukmu Mas 💓💓💓

Sungguh rindu dengan rayuanmu yang "garing" itu yang lebih sering membuatku tertawa atau bahkan membuatku cemberut daripada
tersipu malu.


#
Hanya
harus berdamai dengan kenyataan
#8Harimu

Kesaksianku Tentang Suami

16 Oktober 2018
Kalau ada yg harus di syukuri dari "kehilangan" ini. Setidaknya dia pergi disaat akan melaksanakan apa yang menjadi kebiasaannya selama bertahun tahun.

Iyaaa..bertahun tahun selama menjadi istrinya aku menyaksikan sendiri dia tidak pernah meninggalkan shalat malamnya. Dan menjadi rutinitasnya untuk bangun jam 3 atau setengah 3 malam. Kemudian dia akan mandi, sedingin apapun udara dia tetap akan mandi.
Membuat kopi, kemudian shalat tahajud. Setelah shalat dia akan duduk di teras minum kopi sambil menunggu waktu subuh. Begitu terus kebiasaannya, baik saat di Magelang atau di Nganjuk.

Dan kalau dia sedang ada acara hingga jam 1 atau jam 2 malam. Biasanya dia akan menunda tidurnya, melekan menunggu jam 3 untuk shalat malam kemudian shalat subuh baru setelah itu tidur sampai jam 7 pagi.

Kebiasaan bangun malam serta shalat tahajud yang istrimu ini belum bisa mengikuti sebaik dirimu...


Dan hari itu dini hari di Nganjuk...
Seperti biasa dia lakukan rutinitasnya bangun sekitar jam setengah 3 malam. Sudah mandi, sudah berwudhu untuk shalat. Sesaat setelah itu dengan tiba tiba dia jatuh tak sadarkan diri dan Allah langsung mengambil dirinya...
Begitu mendadak kejadian itu yang bahkan tanpa didahului sakit atau apapun.

Mungkin inilah yg membuatku sedikit teramat lega. Inshaallah Husnul Khotimah njenengan Mas. Pergimu disaat akan melaksanakan ibadah bahkan tubuhmu sudah suci dengan air wudhu.
Bukan seperti yang orang orang itu katakan, mereka yang membencimu yang mengatakan hal buruk tentang kepergianmu.

Terlepas dari semua kekurangan kekuranganmu yang mungkin kadang belum bisa aku terima. Aku bersaksi Mas njenengan SUAMI yang BAIK, begitu sabar MasyaAllah.
Sangat sangat sabar dengan segala polah istrimu ini.
Selalu memaafkan apapun kesalahan yang istrimu ini lakukan. Yang tidak pernah menuntut banyak hal dari istrimu.
Yang sering bilang kalau njenengan bahagia bersamaku, ingin bersamaku menua denganku meskipun teramat sering aku menyakiti hatimu.

Maaf....maaf..maaf Mas....maafkan istrimu
Semoga saat meninggalmu njenengan sudah ridho denganku, sudah memaafkan segala kesalahanku.

Sehari Setelah Suami Meninggal

15 Oktober 2018
Sehari setelah Berpulangmu......
Sudah bertahun tahun sering menghabiskan malam sendirian disaat kita LDR. Terbiasa tanpamu, terbiasa apa apa sendiri. Tapi entah kenapa malam ini sendiriku terasa menyesakkan, sendiriku terasa seperti membunuhku..

Mas...sedang apa njenengan "disana"
Tak ingin menangis lagi, tapi air mata ini terus mengalir tak mau berhenti.
Menyesal belum bisa jadi istri yg baik buat njenengan, dan sekarang kesempatan untuk berbakti ke njenengan sudah tidak ada lagi..

Mas...semoga njenengan ridho ke aku..
Masih belum sempat aku meminta maaf padamu...